Semen Perekat Tak Terkalahkan sejak ditemukannya perekat untuk batu dan material berat lainya. Semen menjadi tambang yang terus di cari oleh manusia. Perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Perekat ini pertamakali ditemukan sejak zaman Kerajaan Romawi, tepatnya daerah Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana.

Sebelum Semen Perekat Tak Terkalahkan ditemukanya semen seperti saat ini, ribuan tahun lalu nenek moyang kita sudah mampu merekatkan batu-batu dengan mengandalkan bahan perekat berupa gypsum, batu kapur; gamping, dan abu vulkanik atau pozzolan. Hasil karya mereka adalah berbagai peninggalan seperti Candi Borobudur; Candi Prambanan di lndonesia, dan tembok besar di Cina (GreatWall). Bangunan yang menjulang tinggi yang dapat kita lihat hingga kini merupakan moderasi perekat material yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan manusia.

Campuran Semen

Oleh karena itu Semen Perekat Tak Terkalahkan Campuran semen purba berupa hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Kedua bahan ini akan aktif setelah lewat proses pembakaran. Ada yang menyebut ramuan tersebut pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, ltalia. Campuran bahan perekat itu lantas dinamai pozzuolana.

Selain itu semen sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu caementum, yang artinya “memotong menjadi bagian-bagian kecil yang tidak beraturan”. Pozzuolana sempat populer di zamannya (1100 – 1500 M), namun keruntuhan Kerajaan Romawi membuat pozzuolana sempat menghilang dari peredaran

Apalagi Semen Perekat Tak Terkalahkan Kita dapat mengikuti perkembangan bahan penambangan untuk mencari bahan-bahan semen. Sejak ditemukanya hingga saat ini. Pada tahun 1756. Ketika John Smeaton bereksperimen dengan kombinasi berbagai batu gamping dan aditif. Termasuk tras dan pozzolana, yang berhubungan untuk pembangunan terencana dann bangunan yang menggunakan beton.

Perkembangan Semen

Pada akhir abad ke 18, adapun semen Romawi dikembangkan dan dipatenkan pada 1796 oleh James Parker; Semen Romawi dengan cepat menjadi populer, namun sebagian besar digantikan oleh semen portland pada tahun 1850-an.

Kemudian hari¸ William Aspdin ternyata secara tidak sengaja memproduksi kalsium silikat pada tahun 1840an. Sebuah langkah maju dan inovatif dalam pengembangan semen portland. Tahun 1848, William Aspdin berinovasi dan menganalisa bagaimana mencari dan memperbaiki semen, maka pada tahun 1853, ia pindah ke Jerman, di mana ia terlibat dalam pembuatan semen.

Hal menarik dari penemuan semen ini adalah, sejak ditemukanya dan mengalami proses panjang. Dalam penyempurnaan campuran atau kandungan yang ada dalam semen itu sendiri. Mari kita lihat penjelasan berikut ini. Yaitu tentang proses pengembangan pengetahuan semen.

  • William Aspdin membuat apa yang bisa disebut ‘semen meso-Portland’ (campuran semen portland dan kapur).
  • Isaac Charles Johnson selanjutnya menyempurnakan produksi semen meso-Portland (tahap tengah pembangunan), dan mengaku sebagai bapak asli semen Portland.
  • Friedrich Hoffmann, yang disebut tungku tanur Hoffmann, Semen ini dibuat di Portland Cementfabrik Stern di Stettin, yang merupakan yang pertama menggunakan tanur Hoffman.

Kerekatan Semen

Selanjutnya Klinker semen portland dibuat dengan kandungan pemanasan dan suhu tertentu, dalam tanur semen. Campuran bahan mentah sampai suhu kalsinasi yaitu di atas 600 °C (1112 °F) dan kemudian suhu fusi. Yaitu sekitar 1450 °C (2640 °F) untuk semen modern, untuk mengentalkan bahan ke dalam klinker.

Bahan dalam klinker semen adalah alit, belit, tri-kalsium aluminat, dan tetra-kalsium alumino ferit. Aluminium. Besi dan magnesium oksida hadir sebagai fluks yang memungkinkan kalsium silikat terbentuk pada suhu yang lebih rendah. Sebagaimana sedikit memberi kontribusi pada kekuatan. Untuk semen khusus. Seperti tipe Low Heat (LH) dan Sulfate Resistant (SR), perlu untuk membatasi jumlah trikalsium aluminat, (3 CaO•Al2O3) terbentuk.

Bahan baku utama untuk pembuatan klinker biasanya batu kapur (CaCO3) dicampur dengan bahan kedua yang mengandung tanah liat. Sebagai sumber alumino-silikat. Biasanya, batu kapur tidak murni yang mengandung tanah liat atau SiO2 digunakan. Kandungan CaCO3 pada batu kapur tersebut dapat serendah 80%. Bahan baku sekunder (bahan dalam campuran mentah selain batu kapur) bergantung pada kemurnian batu kapur.

Proses Semen

Beberapa bahan yang digunakan adalah tanah liat, serpih, pasir, bijih besi, bauksit, abu terbang, dan terak. Ketika tanur semen dibakar oleh batu bara, abu batubara bertindak sebagai bahan baku sekunder.

Pada akhirnya John Smeaton – insinyur asal Inggris – menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luarbiasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat. Kemudian saat membangun menara suar Eddy stone di lepas pantai Cornwall, Inggris.

Akan tetapi ironisnya, bukan Smeaton yang mematenkan proses pembuatan cikal bakal semen ini. Orang pertama yang mematenkan ramuan tersebut justru adalah Joseph Aspdin. Insinyur berkebangsaan Inggris, pada tahun 1824 mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen Portland. Dinamai begitu karena warna hasil akhir olahan nya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan.

Keberadaan Semen Di Indonesia

Semakin meningkatnya permintaan setelah ditemukanya perekat batu dari Portland, maka ekspansi dan industry diperluas hingga ke luar. Oleh karena itu dalam perkembanganya semen dapat dibuat dengan proses basah dan proses kering.

Dalam memproduksi semen dengan proses basah, untuk membuat bubur atau campuran tambahkan air dalam bubuk kering bahan baku. Untuk menjadi hasil klinker, campuran tersebut kemudian dikirim ke rotary. Setelah itu klinker dicampur dengan abu, gypsum, dll dalam proporsi yang diperlukan dan digiling untuk menghasilkan semen.

Berikut daftar berbagai jenis semen yang ada di negara-negara belahan dunia :

  • Ordinary Portland Cement (OPC).
  • Portland Pozzolana Cement (PPC).
  • Rapid Hardening Cement
  • Extra Rapid Hardening Cement.
  • Quick Setting Cement.
  • Low Heat Cement.
  • Sulphate Resisting Cement
  • Portland Slag Cement (PSC).
  • High Alumina Cement.
  • White Cement.
  • Coloured Cement.
  • Air Entraining Cement.
  • Hydrophobic Cement.
  • Masonry Cement.
  • Expansive Cement.
  • Oil Well Cement.

Pabrik Semen

Di Indonesia sendiri pabrik semen berdiri dan hadir diawali dengan berdirinya PT Semen Padang (Perusahaan). Berdiri pada tanggal 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM).

Sebagaimana pelopor pabrik semen pertama di Indonesia. Dengan demikian tertulis dalam sejarah perusahaan PT Semen Padang. PT Semen Padang higga kini masih berproduksi dan eksis dengan baik. Ini berarti pabrik semen di Padang sudah berumur lebih dari satu abad lamanya.

Salah satu pabrik semen di Indonesia yang terbesar adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Plant-12 Tarjun. Pabrik ini merupakan perusaahan yang bergerak dalam bidang pembuatan semen. Pada proses pembuatan semen pengolahan bahan baku memiliki peranan yang penting karena mempengaruhi kualitas dan karakteristik hasil dari produksi.

Pabrik Indocement berdiri sejak 16 Januari 1985. Perusahaan ini merupakan hasil penggabungan enam perusahaan semen yang memiliki delapan pabrik. Pabrik pertama Indocement telah beroperasi sejak 4 Agustus 1975. Pada 31 Desember 2016. Indocement memiliki kapasitas produksi sebesar 24,9 juta ton semen per tahun.

Produksi Semen

Kapasitas tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Selain itu, Indocement juga memiliki kapasitas produksi beton siap-pakai sebesar 5,0 Juta meter kubik per tahun dengan 38 batching plant dan 632 truk mixer, serta memproduksi agregat sebesar 2,7 juta ton.

Selain itu Indocement memiliki 13 buah pabrik yang beroprasi di Indonesia, sepuluh diantaranya berada di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dua berada di Cirebon, Jawa Barat, dan satu di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Zisokhi memperkirakan, konsumsi semen nasional akan mencapai 66,5 juta ton hingga akhir 2021. Setidaknya naik 6,0% secara year-on-year (yoy). Meski pun demikian, proyeksi ini masih 5% lebih rendah dari realisasi / angka penjualan semen tahun 2019 yang mencapai 70,0 juta ton. Jika dibandingkan dengan produksi agregat PT Indocement Indonesia 2,7 juta ton, maka masih selisih 67,3 juta ton produksi nasional.

Oleh karena itu akumulasi konsumsi semen bulan Juli-Agustus 2021 juga tumbuh 1,9% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli-Agustus 2020. “Resiliensi industri semen saat pemberlakuan PPKM level 4 membuat optimistis konsumsi semen akan kembali naik hingga akhir tahun.

Apalagi  dukungan dengan semakin terkendalinya kasus Covid-19 di Indonesia dan pelonggaran PPKM,” tulis Yosua dalam riset,

Agar tetap terjaga pasokan semen oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Indocement memiliki sepuluh terminal semen yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu:

  1. Kesatu Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, DKI Jakarta
  2. Kedua Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur
  3. Ketiga Terminal Pontianak, Pontianak, Kalimantan Barat
  4. Keempat Terminal Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat
  5. Kelima Terminal Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur
  6. Keenam Terminal Cigading, Cilegon, Banten
  7. Ketujuh Terminal Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur.
  8. Kedelapan Terminal Dawuan, Cikampek, Jawa Barat.
  9. Kesembilan Terminal Lampung, Bandar Lampung, Lampung.
  10. Kesepuluh Terminal Palembang, Palembang, Sumatera Selatan

You cannot copy content of this page